Pengkhianatan Syiah dan Usaha Mereka untuk Membunuh Shalahuddin Al-Ayyubi

Primary tabs

Orang-orang Syiah belum lupa bahwa Shalahuddin Al-Ayyubi adalah orang yang telah melenyapkan Daulah Fathimiyah di Mesir, dan kembali memberikan tempat bagi Ahlu sunnah wal jamaah. Karena itulah, mereka berusaha berulang kali untuk membunuhnya, untuk mendirikan Daulah Fathimiyah yang baru. Dan dalam semua konspirasi ini mereka meminta bantuan kepada orang-orang asing serta berkirim surat kepada mereka.

Al-Maqrizi berkata dalam As-Suluk, "Pada tahun 569 H sekelompok penduduk Mesir berkumpul untuk mengangkat salah seorang anak Al-Adhid —Khalifah Fathimiyah terakhir di Mesir- dan membunuh Shalahuddin Al-Ayyubi, serta mengirimkan surat kepada orang-orang asing guna meminta bantuan dari mereka. Di antara mereka adalah; Al-Qadhi al-Mufaddhal Dhiya'uddin Nasrullah bin Abdullah bin Kamil AlQadhi, Syarif Al-Julais, Najah Al-Hamami, Al-Faqih Imarah bin Ali Al-Yamani, Abdusshamad Al-Katib, Al-Qadhi Al-A'az Salamah Al-Uwairis seorang ketua pelaksana Dewan Konsiderasi dan Kehakiman, dai para dai Abdul Jabir bin Ismail bin Abdul Qowi, dan Wa'iz Zainuddin bin Naja. Ibnu Naja melaporkan mereka kepada sultan dan meminta padanya untuk memberikan kepadanya semua yang ada pada Ibnu Kamil Ad-Da'i berupa jabatan dan semua fasilitas. Permintaannya itu dikabulkan, kemudian orang-orang tersebut dikepung dan dihukum gantung. Shalahuddin mulai mengawasi setiap orang yang mempunyai ambisi terhadap Daulah Fathimiyah.


Beliau membunuh dan menahan banyak orang. Kepadanya disarankan untuk memberangkatkan seluruh pasukan dan pegawai istana serta panglima tentara Sudan ke wilayah dataran paling tinggi. Beliau menangkap seorang laki-laki bernama Qadid, salah seorang propagandis Daulah Fathimiyah di Alexandria pada hari Ahad, hari kelima belas di bulan Ramadhan.


Meskipun para pengkhianat yang telah mengadakan konspirasi telah dibunuh, tetapi orang-orang asing tetap datang sesuai dengan hasil korespondensi yang telah dilakukan di antara mereka sebelumnya.


Al-Maqrizi berkata, "Pada tahun itu, armada tentara asing mendarat secara tiba-tiba di Shaqaliah melalui pintu Alexandria pada akhir bulan Dzulhijah. Orang yang telah mempersiapkan armada ini adalah Ghalyalam bin Rajar, penguasa Shaqaliyah yang berkuasa pada tahun 560 H sesudah ayahnya. Ketika armada pasukan ini berlabuh di dermaga, mereka menurunkan seribu lima ratus kavaleri dari kapal-kapal perang mereka. Jumlah mereka adalah tiga puluh ribu prajurit, antara penunggang kuda dan pejalan kaki. Jumlah kapal yang mengangkut peralatan perang dan blockade adalah enam kapal, dan yang mengangkut perbekalan dan para personil adalah empat puluh kapal perang, mereka kira-kira berjumlah lima puluh ribu pejalan kaki.


Mereka berlabuh dekat mercusuar dan mereka menyerang kaum muslimin sampai mendesak mereka ke As-Sur. Jumlah kaum muslimin yang terbunuh sangat banyak. Kapal-kapal perang asing bergerak secara perlahan-lahan ke pelabuhan, sementara di sana terdapat kapal-kapal kaum muslimin, kemudian mereka menenggelamkannya. Mereka dapat menguasai darat dan membuat perkemahan di sana. Jumlah perkemahan mereka di darat mencapai tiga ratus kemah, mereka terus bergerak untuk mengepung seluruh negeri, dan mereka memasang tiga buah peralatan perang untuk menghancurkan benteng dan tiga buah katapel besar yang melontarkan batu hitam besar. Sultan Shalahuddin sedang berada di Faqus dan mendapat berita pada hari ketiga setelah orang-orang asing berlabuh. Dia mulai menyiapkan pasukan dan membuka pintu gerbang. Kaum muslimin menyerang orang-orang asing dan membakar peralatan perang mereka. Allah mendukung mereka dengan pertolongannya.


Orang-orang asing banyak terbunuh dan kaum muslimin merampas peralatan perang, barang-barang, dan persenjataan yang tidak mungkin dapat diperoleh kecuali dengan kerja keras melawan mereka. Sisa-sisa tentara asing kembali berangkat berlayar pada awal tahun tujuh puluh.


Tahukah Anda, berapa jumlah banyaknya pengkhianatan dari mereka? Seandainya Allah tidak memberikan nikmatnya kepada Shalahuddin dan orang-orangnya dan menolong mereka, tentu saja sebagaimana yang dikatakan oleh AlMaqrizi; akan semakin banyak susah payah, pengorbanan jiwa, dan darah yang mengalir. Semua ini, tidak lain adalah perbuatan dari orang-orang Syiah.


Belum lagi tahun 569 H berlalu dan datang tahun 570 H, orang-orang Syiah sudah merencanakan pengkhianatan lain, yaitu untuk mendirikan Daulah Fathimiyah dan membunuh Shalahuddin.


Al-Maqrizi berkata, "Pada tahun itu, Kanzuddaulah pemimpin Uswan mengumpulkan orang-orang Arab dan Sudan, menuju Kairo ingin mengembalikan Daulah Fathimiyah. Untuk mengumpulkannya mereka dia mengeluarkan uang yang sangat banyak. Ikut bergabung bersamanya orang-orang yang mempunyai ambisi yang sama, kemudian dia membunuh beberapa orang pejabat Shalahuddin.


Di desa Thud, muncul seorang laki-laki yang dikenal dengan nama Abbas bin Syadi, dia merebut negeri Qush dan merampas harta kekayaannya. Kemudian sultan Shalahuddin menyiapkan saudaranya raja Adil dengan pasukan yang besar, bersamanya pula Al-Khathir Muhadzdzib bin Mamati, kemudian dia berangkat dan memerangi Ibnu Syadi dan menghancurkan pasukannya serta membunuhnya. Setelah itu dia berangkat kembali dan bertemu dengan Kanzuddaulah di pinggiran kota Thud. Terjadilah peperangan di antara mereka berdua. Dalam peperangan tersebut, Kanzuddaulah melarikan diri setelah mengetahui banyak prajuritnya yang terbunuh. Akhirnya Kanzuddaulah terbunuh juga pada tanggal tujuh Shafar, dan raja Adil pun pergi ke Kairo.


Pengkhianatan ini bukan hanya sekadar berusaha membunuh Shalahuddin As-Sunni saja, yang telah melenyapkan Daulah Syiah di Mesir, tetapi juga akan membawa akibat yang timbul dari hal tersebut, yaitu semakin berbahayanya orang-orang asing di negara Syam. Ketika sultan Shalahuddin hendak mendatangi mereka, salah satu penghalang utamanya adalah pengkhianatan orang-orang Syi'ah kepadanya dalam kekuasaannya di Mesir.


Ibnu Katsir Rahimahullah berkata, "Tahun 570 H telah tiba dan sultan raja An-Nashir Shalahuddin bin Ayyub berkeinginan untuk masuk ke negara Syam guna melindunginya dari orang-orang asing, tetapi beliau ditimpa suatu permasalahan yang membuatnya mengenyampingkan keinginannya itu, yaitu bahwa orang-orang asing telah datang ke pesisir Mesir dengan armada perang yang belum pernah ada yang menandinginya dalam jumlah kapal perang, peralatan perang, dan blokade serta pasukan.


Salah satu yang juga menghalangi keberangkatan AnNashir ke Syam adalah seorang laki-laki yang dikenal dengan Al-Kanz. Sebagian orang-orang memanggilnya dengan Abbas bin Syadi, dia adalah salah seorang Mayor di wilayah-wilayah Mesir dan Daulah Fathimiyah. Dia dihubungkan dengan suatu negeri yang bernama Aswan, dia membuat orang-orang bergabung bersamanya. Maka bergabung bersamanya para rakyat jelata dari kota maupun dari desa. Dia menganggap bahwa dirinya dapat mengembalikan Daulah Fathimiyah dan melawan AI-Atabikah Turki....


Ketika negara telah kembali tenang dan tidak ada pemimpin dari Daulah Abidiyah (Fathimiyah) di sana, Shalahuddin muncul bersama pasukan Turki menuju negara Syam, yaitu ketika sultannya Nuruddin Mahmud bin Zanki wafat dan para penduduknya ditakut-takuti, dasar-dasarnya melemah dan para pemimpinnya berselisih. Tujuannya adalah menguatkan persatuan, berbuat baik kepada penduduknya, menolong Islam, melawan orang-orang zhalim, mengembalikan keagungan Al-Qur'an, melenyapkan semua agama "sesat" dan menghancurkan salib dalam keridhaan Allah yang Rahman serta memerangi setan.


Ketika memasuki Damaskus, beliau didatangi oleh para pejabat negara untuk berdamai dengannya, mereka melihatnya sangat baik, kemudian beliau segera berangkat ke Halab, karena telah terjadi kekacauan dan kerusuhan di sana. Beliau meminta saudaranya Thaghtakin bin Ayyub yang dijuluki dengan Saiful Islam untuk menjadi wakilnya di Damaskus. Ketika melewati Himash, beliau tinggal di sana dan tidak berusaha merebutnya. Kemudian beliau berangkat ke Hamat dan mengambilnya dari pemimpinnya Izzuddin bin Jibril lalu memintanya menjadi duta besarnya di antara dia dengan orang-orang Halab, dan dia memenuhi permintaannya.


Dia mendatangi mereka dan memperingatkan mereka atas nama Shalahuddin, tetapi mereka tidak memperdulikannya, bahkan memerintahkan untuk menahannya dan menangkapnya. Maka informasi kepada sultan menjadi terhambat, kemudian beliau mengirim surat kepada mereka, menyalahkan mereka atas terjadinya pertikaian dan tidak adanya persatuan, serta mengingatkan mereka dengan apa yang terjadi pada masanya, ayahnya, serta pamannya, ketika membantu Nuruddin dalam pengambilan beberapa keputusan yang baik yang disaksikan oleh para ahli agama. Kemudian beliau berangkat ke Halab dan berhenti di gunung Jausyan.


Di sinilah setan manusia merusak hati anak raja Nuruddin Mahmud dengan memprovokasi penduduk Halab untuk memerangi Shalahuddin. Itu dilakukannya dengan cara menunjuk para pemimpin senior. Para penduduk pun memenuhinya, karena keharusan bagi setiap orang untuk mematuhinya. Orang-orang Syiah memberi syarat kepadanya, yaitu; dengan mengembalikan kalimat "Hayya ala khairil amal" dalam adzan dan diumumkan di pasar-pasar, kemudian bagian sebelah timur masjid untuk mereka, nama-nama para imam dua belas harus disebutkan di sisi jenazah dan mereka bertakbir dalam shalat jenazah sebanyak lima kali, dan akad nikah mereka diserahkan kepada Syarif bin Abil Makarim Hamzah Al-Husaini.


Semua persyaratan mereka dipenuhi; semua masjid di seluruh negeri mengumandangkan adzan dangan "Hayya ala khairil amal." Para penduduk tidak mampu melawan AnNashir, dan mereka mengerahkan semua cara untuk menyerangnya. Pertama-tama mereka mengirimkan surat kepada Syaiban pemimpin Al-Hisbah, kemudian dikirimlah beberapa orang sahabatnya untuk membunuh An-Nashir, tetapi tidak berhasil sama sekali, akan tetapi mereka berhasil membunuh sebagian pejabat yang ada, kemudian muncul kembali yang lainnya dan mereka membunuh semuanya.


Pada saat itu, mereka mengirim surat kepada AlQaumash pemimpin Tharablus Al-Faranji dan menjanjikan padanya harta yang banyak apabila dia dapat membuat AnNashir pergi dari mereka. Al-Qaumash pernah ditahan oleh Nuruddin selama sepuluh tahun, kemudian dia menebus dirinya. Dia tidak akan melupakannya untuk Nuruddin...


"Pada tanggal empat belas Dzulhij ah tahun 571 H, beberapa orang Ismailiyah berusaha melawan sultan Shalahuddin, beliau dapat mengalahkan mereka setelah mereka melukai beberapa orang pemimpin dan pejabat.


Pada tahun 573 H, ketika sultan Shalahuddin keluar dari Kairo untuk memerangi orang-orang asing, beliau menuju Asqalan, kemudian menawan, merampas, dan membunuh. Kemudian pergi ke Ramallah dan orang-orang asing mengawasi mereka. Barnest Arnat penguasa Kurk datang pada mereka dengan pasukan yang besar. Kaum muslimin kalah dan sultan tetap bersama pasukan, kemudian beliau berperang dalam peperangan yang hebat. Beberapa orang mati terbunuh dan orang-orang asing mengambil barang bawaan kaum muslimin.


Dalam perjalanan mereka menuju Kairo, mereka merasa sangat kelelahan, bahkan beberapa orang dari mereka mati,  begitu juga dengan hewan-hewan mereka. Orang-orang asing menahan beberapa orang, di antaranya adalah; Al-Faqih Dhiya`uddin Isa Al-Hakari. Sultan datang ke Kairo dan dia bersumpah bahwa dia tidak akan diserang penyakit sampai dia menghancurkan orang-orang asing, karena merekalah penyebab dari kekalahan ini.


Pada tahun 584 H, dua belas orang Syiah memberontak pada malam hari, mereka berteriak-teriak dengan mengatakan, "Wahai keturunan Ali! Wahai keturunan Ali." Mereka melewati jalan-jalan sambil berteriak seperti itu, karena mereka mengira para pejabat negara akan memenuhi ajakan mereka. Mereka melakukan itu untuk mengembalikan Daulah Fathimiyah, maka mereka mengeluarkan orang-orang yang ada di penjara dan menguasai negeri. Ketika tidak ada seorang pun yang mengikuti ajakan mereka, mereka bercerai-berai.


Inilah sebagian contoh-contoh pengkhianatan Syiah dan usaha mereka dalam usaha pembunuhan raja penolong Ahlu sunnah, Shalahuddin Rahimahullah. Mereka merencanakan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.


Nota: Petikan Buku Pengkhianatan-pengkhianatan Syiah dan Pengaruhnya Terhadap Kekalahan Umat Islam (terjemahan), oleh Dr Imad Abdus Sami’ Husain, terbitan al-Kautsar